Pages

Kamis, 03 Juni 2010

Malam Pertama Orang Beriman di Dalam Kubur

Nabi Muhammad saw bersabda dalam sebuah hadits: “Mintalah perlindungan Alloh SWT dari siksa kubur”. Berdasarkan hadits ini, kita bisa mengartikan bahwa sesungguhnya siksaan kubur itu benar-benar ada, dan merupakan rumah pertama (tempat transit), sebelum menuju kehidupan akhirat .
Seorang hamba yang beriman, dalam masa sakaratul maut, ia akan melihat malaikat-malaikan putih turun dari langit, wajahnya cemerlang turun sambil membawa kafan putih dari surga. Kemudian malaikat duduk mengelilinginya dalam sayup-sayup putih, dan datanglah malaikat maut di atas kepalanya dan berkata dengan penuh santun dan kasih sayang, “Wahai jiwa yang tenang, keluarlah kamu dengan ampunan dan kenikmatan Alloh SWT, aku mau menjemputmu sekarang juga, Alloh akan menggantikan rumah, istri, dan keluarga dengan yang lebih baik”.
Sementara malaikat-malaikat lain menunggu kedatangan ruh tersebut. Ruh seorang mukmin keluar dari jasadnya laksana air yang keluar dari keran tanpa sayatan pedih. Keluarlah bau semerbak ruh yang belum pernah tercium di bumi. Lalu dua malaikat pendamping naik melintasi jagat langit.
Sesampainya di langit pertama, malaikat pendamping meminta izin kepada malaikat penjaga, dan bertanya malaikat penjaga tersebut, siapakah kamu dan bersama siapa?. Malaikat pendamping menjawab, kami malaikat pembawa ruh dari seorang hamba yang sholeh fulan bin fulan. Lalu malaikat penjaga itu menginjinkan masuk dan naiklah ruh beserta malaikat ke langit kedua. Kejadian ini terus berlangsung sampai ke langit tingkat tujuh dan naik lagi sampai sidratul muntaha dengan sambutan yang sebaik-baiknya dan penuh suka cita. Sampailah di suatu bangunan, dan dilanjutkan dengan pencatatan amalan untuk dikumpulkan dengan amalan para nabi dan syuhada. Selanjutnya ruh dikembalikan ke jasad di alam kubur.
Demikianlah pengalaman yang akan dialami oleh ruh seorang hamba yang beriman, ia akan menjalaninya dengan penuh kenikmatan dan suka cita. Hal ini tentunya akan sebaliknya berbeda dengan pengalaman yang akan dialami oleh orang yang tidak beriman, sebagaimana Alloh SWT berfirman dalam QS Al-A’raf 40:
“Sesungguhnya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri kepadanya, sekali-kali tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit tidak tidak pula mereka masuk surga, hingga unta masuk lubang jarum. Demikianlah Kami memberi pembalasan kepada orang-orang yang berbuat kejahatan”.

Pesan Rosul Kepada Orang Yang Hampir Dicabut Nyawanya.

Suatu ketika datang kepada rosululloh malaikat pencabut nyawa (izrail) dalam rupa seorang laki-laki. Malaikat itu duduk bersama rosul dan menyampaikan sesuatu. Kemudian datanglah seorang sahabat kepada rosululloh, lantas malaikat itu izin pamit dan meninggalkannya. Bertanya sahabat, Ya rosul siapakah gerangan orang itu?. Rosul menjawab, orang itu ialah malaikat pencabut nyawa (izrail), dia datang kepadaku memberitahukan bahwa engkau sebentar lagi akan mati dan aku akan mensholatkanmu. Lalu sahabat itu bertanya, “Berikanlah kepadaku pesan terakhir yang akan menyempurnakan kehidupanku”. Rosulpun menjawab, “Kalau ada majlis ilmu, maka dengarkanlah”.

Penggalan kisah di atas menggambarkan pentingnya kedudukan mencari ilmu dalam pandangan islam. Pesan terakhir nabi bagi orang yang akan dicabut nyawanya adalah mencari ilmu. Bukan mengerjakan shalat zakat atau amalan ibadah lainnya.

Mencari ilmu wajib hukumnya bagi setiap orang, sama halnya dengan kewajiban menjalankan ibadah sholat, puasa, dan zakat. Nabi dalam hadits lain bersabda, “Tuntutlah ilmu dari semenjak dilahirkan sampai masuk liang lahat”. Dalam al-Quran, Alloh SWT mengajarkan sebuah do’a, “Robbi Jidnii ilmaa”, Ya Robb tambahlah ilmu. Kita jangan pernah merasa sudah banyak ilmu, namun sebaliknya carilah terus ilmu sampai akhir hayat menjemput kita.

Lebih lanjut nabi mengatakan bahwa keutamaan orang yang mencari ilmu, akan dinaungi oleh sayap-sayap malaikat, artinya ia dilindungi dan dirahmati Alloh SWT.

Dalam kenyataaannya, banyak sekali kendala saat kita mencari ilmu. Kendala utama biasanya rasa malas. Kita tidak sabar untuk memperoleh hasil yang instant dari ilmu yang dipelajari. Padahal perlu kita sadari, adakalanya ilmu itu baru memberi manfaat di kemudian hari, mungkin 1 tahun, 2 tahun atau lebih dari itu.Seperti halnya penemuan-penemuan listrik, telepon dan lain-lain bisa dinikmati dari dulu sampai sekarang.
Jika kita menelaah lebih lanjut QS Al-Baqoroh 31, yang berbunyi:

“Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang orang-orang yang benar!”

Kita ini memiliki ilmu karena Alloh SWT yang pertama kali mengajarkan kepada adam tentang nama-nama benda. Karena itu kedudukan manusia lebih sempurna dibandingkan malaikat dan makhluk lainnya.

Dalam ayat lain Alloh menyatakan, bahwa Alloh-lah yang mengeluarkan manusia dari perut ibunya, dan manusia tidak mengetahui apa-apa saat dilahirkan. Lalu Alloh SWT memberikan pendengaran dan penglihatan agar manusia berpikir & bersyukur.

Semakin banyak kita mendengar, melihat, dan berfikir dengan menggunakan panca indera, maka semakin banyak ilmu yang akan kita peroleh. Untuk itu, mari kita mencintai ilmu, karena pesan rosul kepada yang mau meninggal saja, mencari ilmu.

Orang yang memiliki ilmu dan diamalkan, selain akan manfaat bagi sendiri juga bagi orang disekitar. Dalam hadist lain nabi bersabda, tiga amalan yang tidak putus walau seorang anak adam meninggal dunia yaitu, Shodaqoh zariah, Ilmu yang bermanfaat, dan anak sholeh yang mendoakan kedua orang tuanya.

Kekhawatiran Nabi Muhamad Terhadap Umatnya

Nabi muhammad adalah seorang pembawa risalah Alloh yang sangat mencintai umatnya. Sepanjang hidupnya ia dedikasikan untuk menyebarkan risalah Alloh kepada umat manusia, walau dihadapkan pada tantangan, cemoohan dan penderitaan.

Alloh SWT menggambarkan sifat dan perjuangan nabi Muhammad dalam QS Attaubah 128:

“Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin. (QS. 9:128)

Berangkat dari kecintaan beliau yang sangat besar terhadap umatnya, ia menginginkan umatnya senantiasa berada dalam keimanan agar selamat dunia dan akhirat. Untuk itulah, beliau memiliki beberapa kehawatiran yang tidak ingin terjadi kepada umatnya. Karena jika kekhawatiran ini terjadi, niscaya umat itu ada dalam kesesatan dan kecelakaan dunia dan akhirat.

Apa sajakah kekhawatiran nabi itu? Jawabannya adalah sebagai berikut:

#1. Pemimpin yang menyesatkan (Dholim)

Nabi sangat mengkhawatirkan jika umatnya dipimpin oleh pemimpin yang menyesatkan (dholim) . Kenapa? Karena seorang pemimpin adalah lokomotif yang menentukan arah suatu masyarakat. Baik buruknya tatanan masyarakat akan sangat ditentukan oleh pemimpinnya. Islam melarang umatnya memilih musuh Alloh dan musuh orang beriman sebagai pemimpin baginya. Begitu pula orang yang tabiatnya lebih cenderung terhadap kekafiran daripada keimanan.
Nabi sangat mengkhawatirkan, jika umatnya dipimpin oleh pemimpin yang dholim (menyesatkan), maka umatnya akan rusak.

#2. Riya
Nabi berkata, “Yang paling aku takuti terjadi pada umatku, yakni umatku mampu beramal sholeh tetapi terjebak pada syirik kecil”, Shahabat bertanya, “Apa yang dimaksud dengan Syirik kecil itu?”, Nabi menjawab, “Riya”.

Riya adalah ketika seseorang beramal sholeh, ia ingin dilihat oleh manusia dan ingin mendapat pujian. Saat di akhirat kelak, Alloh menyuruh orang yang berbuat riya untuk minta pahala kepada yang di-riyai-nya. Alloh hanya menginginkan amal yang dilakukan seseorang semata-mata untuk mengharap ridho Alloh, bukan yang lainnya.

Sangatlah mudah mengindikasikan apakah perbuatan (ibadah) yang kita lakukan termasuk kategori riya atau tidak. Jika kita semakin bersemangat melakukan ibadah saat ada orang lain yang memuji, dan berhenti saat ada orang menghina, maka berhati-hatilah karena perbuatan itu termasuk kategori riya (manusia oriented). Adapun orang yang ikhlas, ia akan tetap istiqomah menjalankan ibadah, tanpa pengaruh pujian atau hinaan orang lain (Alloh oriented).

#3. Perzinahan
Saat ini, perzinahan telah merajalela di lingkungan sekitar kita, bahkan telah menjadi trend di kalangan generasi muda. Islam sangat melarang perbuatan zina, bahkan perbuatan yang mendekati perzinahanpun dilarang. Dalam pandangan Islam, perbuatan zina merupakan perbuatan keji, buruk dan merusak tatanan sosial.

#4. Munafik yang Pintar Ngomong
Kehadiran orang munafiq yang pintar ngomong sangatlah membahayakan. Ia memiliki kemampuan orasi yang meyakinkan sehingga orang takjub dan kagum terhadap apa yang ucapkannya, meskipun ucapan itu hanyalah hiasan bibir belaka. Alloh akan menempatkan orang munafiq di neraka paling dasar. Orang munafiq selalu dusta saat dia berbicara, menampakkan keimanan dan menyembunyikan kekafirannya. Kehadirannya dalam umat hampir tidak kelihatan karena ia bersembunyi dalam kekafiran.

#5. Kesesatan Hawa Nafsu
Nabi sangat takut jika umatnya berada dalam kesesatan hawa nafsu dan syahwat. Mereka cenderung mengikuti hawa nafsu baik perut maupun kemaluan. Satu satu faktor yang menyebabkan seseorang mengikuti hawa nafsu, ialah meninggalkan sholat.

#6. Lalai Meskipun Tahu
Adab yang paling keras akan ditimpakan Alloh kepada yang ‘alim tetapi tidak mengamalkan ilmunya.

#7. Percaya Dukun dan Mengingkari Takdir

Siapa orang yang datang ke orang pintar (dukun), bertanya sesuatu dan mengimani ucapannya, maka sholatnya selama 40 hari tidak diterima. Saat ini, banyak orang islam yang percaya dukun karena ingin naik pangkat, laris usahanya, dan lain sebagainya. Hal ini sangat bertentangan dengan ajaran Islam, sampai-sampai nabi mengkhawatirkan jika hal ini terjadi kepada umatnya.

Kekhawatiran Nabi Muhamad Terhadap Umatnya

Nabi muhammad adalah seorang pembawa risalah Alloh yang sangat mencintai umatnya. Sepanjang hidupnya ia dedikasikan untuk menyebarkan risalah Alloh kepada umat manusia, walau dihadapkan pada tantangan, cemoohan dan penderitaan.

Alloh SWT menggambarkan sifat dan perjuangan nabi Muhammad dalam QS Attaubah 128:

“Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin. (QS. 9:128)

Berangkat dari kecintaan beliau yang sangat besar terhadap umatnya, ia menginginkan umatnya senantiasa berada dalam keimanan agar selamat dunia dan akhirat. Untuk itulah, beliau memiliki beberapa kehawatiran yang tidak ingin terjadi kepada umatnya. Karena jika kekhawatiran ini terjadi, niscaya umat itu ada dalam kesesatan dan kecelakaan dunia dan akhirat.

Apa sajakah kekhawatiran nabi itu? Jawabannya adalah sebagai berikut:

#1. Pemimpin yang menyesatkan (Dholim)

Nabi sangat mengkhawatirkan jika umatnya dipimpin oleh pemimpin yang menyesatkan (dholim) . Kenapa? Karena seorang pemimpin adalah lokomotif yang menentukan arah suatu masyarakat. Baik buruknya tatanan masyarakat akan sangat ditentukan oleh pemimpinnya. Islam melarang umatnya memilih musuh Alloh dan musuh orang beriman sebagai pemimpin baginya. Begitu pula orang yang tabiatnya lebih cenderung terhadap kekafiran daripada keimanan.
Nabi sangat mengkhawatirkan, jika umatnya dipimpin oleh pemimpin yang dholim (menyesatkan), maka umatnya akan rusak.

#2. Riya
Nabi berkata, “Yang paling aku takuti terjadi pada umatku, yakni umatku mampu beramal sholeh tetapi terjebak pada syirik kecil”, Shahabat bertanya, “Apa yang dimaksud dengan Syirik kecil itu?”, Nabi menjawab, “Riya”.

Riya adalah ketika seseorang beramal sholeh, ia ingin dilihat oleh manusia dan ingin mendapat pujian. Saat di akhirat kelak, Alloh menyuruh orang yang berbuat riya untuk minta pahala kepada yang di-riyai-nya. Alloh hanya menginginkan amal yang dilakukan seseorang semata-mata untuk mengharap ridho Alloh, bukan yang lainnya.

Sangatlah mudah mengindikasikan apakah perbuatan (ibadah) yang kita lakukan termasuk kategori riya atau tidak. Jika kita semakin bersemangat melakukan ibadah saat ada orang lain yang memuji, dan berhenti saat ada orang menghina, maka berhati-hatilah karena perbuatan itu termasuk kategori riya (manusia oriented). Adapun orang yang ikhlas, ia akan tetap istiqomah menjalankan ibadah, tanpa pengaruh pujian atau hinaan orang lain (Alloh oriented).

#3. Perzinahan
Saat ini, perzinahan telah merajalela di lingkungan sekitar kita, bahkan telah menjadi trend di kalangan generasi muda. Islam sangat melarang perbuatan zina, bahkan perbuatan yang mendekati perzinahanpun dilarang. Dalam pandangan Islam, perbuatan zina merupakan perbuatan keji, buruk dan merusak tatanan sosial.

#4. Munafik yang Pintar Ngomong
Kehadiran orang munafiq yang pintar ngomong sangatlah membahayakan. Ia memiliki kemampuan orasi yang meyakinkan sehingga orang takjub dan kagum terhadap apa yang ucapkannya, meskipun ucapan itu hanyalah hiasan bibir belaka. Alloh akan menempatkan orang munafiq di neraka paling dasar. Orang munafiq selalu dusta saat dia berbicara, menampakkan keimanan dan menyembunyikan kekafirannya. Kehadirannya dalam umat hampir tidak kelihatan karena ia bersembunyi dalam kekafiran.

#5. Kesesatan Hawa Nafsu
Nabi sangat takut jika umatnya berada dalam kesesatan hawa nafsu dan syahwat. Mereka cenderung mengikuti hawa nafsu baik perut maupun kemaluan. Satu satu faktor yang menyebabkan seseorang mengikuti hawa nafsu, ialah meninggalkan sholat.

#6. Lalai Meskipun Tahu
Adab yang paling keras akan ditimpakan Alloh kepada yang ‘alim tetapi tidak mengamalkan ilmunya.

#7. Percaya Dukun dan Mengingkari Takdir

Siapa orang yang datang ke orang pintar (dukun), bertanya sesuatu dan mengimani ucapannya, maka sholatnya selama 40 hari tidak diterima. Saat ini, banyak orang islam yang percaya dukun karena ingin naik pangkat, laris usahanya, dan lain sebagainya. Hal ini sangat bertentangan dengan ajaran Islam, sampai-sampai nabi mengkhawatirkan jika hal ini terjadi kepada umatnya.

Rabu, 02 Juni 2010

Bagaimanakah Kualitas Sholat Anda??

SHOLAT adalah ritual ibadah yang sangat penting dilakukan setiap muslim. Begitu pentingnya, sholat diibaratkan sebagai pilar utama agama Islam. Sholat adalah perkara yang pertama kali ditanya di akhirat kelak. Kalau kualitas sholat seseorang baik, maka akan baik pula amal yang lainnya. Namun sebaliknya, jika kualitas sholatnya tidak baik, maka akan tidak baik pula amal yang lainnya.

Untuk itu, menjadi tantangan tersendiri, bagaimana agar kita bisa melaksanakan SHOLAT yang TERBAIK. Sholat yang dilakukan dengan penuh ke-Khusyuan, tu’maninah, serta tawaddu fisik dan batin, sehingga pada akhirnya sholat memberikan dampak positif dalam keseluruhan hidup kita.

Dalam nasehatnya, nabi menganjurkan agar kita sebisa mungkin melakukan sholat tepat waktu serta menyempurnakan wudhu sebelumnya. Nabi mengatakan bahwa barang siapa yang sholat tepat waktu, berwudhu dengan sempurna, berdiri, ruku dan sujud dengan khusyu dan tumaninah, maka pahala sholatnya akan naik ke langit dengan putih, bersih dan bersinar.

Seandainya pahala itu bisa berbicara, maka ia akan berbicara kepada yang sholat, “Aku akan memberikan perlindungan kepadamu sebagaimana engkau telah menjaga sholat dengan sebaik-baiknya”. Namun sebaliknya, jika seseorang mengabaikan sholat, maka sholatnya akan seperti hitam dan sangat hitam. Berkata sholat itu, “Semoga Alloh menyia-nyiakan kamu seperti kamu menyia-nyiakan saya”, sehingga seperti lipatan-lipatan baju yang kusut kemudian akan memukul dirinya.

Salah seorang sahabat yang bernama Bilal, berkata, “Aku melihat laki-laki sholat dan tidak sempurna ruku dan sujudnya”. Selanjutnya Bilal berkata, “Jika orang ini mati, maka matinya di luar agama Muhamad”.

Khusyu dalam sholat seperti halnya ruh di dalam tubuh. Walaupun fisik gagah, kalau tidak ada ruhnya, maka fisik itu tidak ada gunanya (mati). Jasad adalah gerak dan bacaan sholat, sementara khusyu adalah ruhnya.

Suatu hari rosul melihat seseorang yang melakukan sholat dan tangannya memainkan jenggotnya. Lantas Rosul berkata, “Seaindainya pintu hatinya khusyu, tentu gerakan fisik dan anggota tubuhnya akan tenang”. Lebih lanjut Alloh mengatakan dalam QS al-Muminun, ayat 1 -2, “Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, Yaitu orang-orang yang khusyu dalam sholatnya”.

Untuk menggapai kekhusyu-an sholat, kita harus menghadirkan IHSAN dan dalam diri kita. Kita meyakini seyakin-yakinnya bahwa Alloh sedang melihat kita, sehingga hati merasa diawasi oleh Alloh SWT.

Kita bisa mengambil hikmah tentang sholat khusyu dari Ali bin Abi Tholib. Setelah melakukan wudhu, wajah Ali bin Abi Tholib berubah menjadi kuning, dan selesai sholat ia seperti orang yang gemetar. Salah seorang sahabat bertanya, “Wahai Ali, kenapa wajahmu berubah menjadi kuning dan gemetar?”, Ali bin Abi Thalib lantas menjawab, “Karena di antara wudhu dan sholat, Alloh sedang memperhatikan kita. Kita sedang menjalankan amanah besar yang tidak sanggup dipikul oleh gunung.” Bagaimana mungkin wajah Ali bin Ali Thalib tidak kuning dan tubuhnya tidak gemetar, kalau sholat yang ia lakukan tidak khusyu.

Alkisah, suatu hari ada seorang laki-laki masuk ke mesjid dan di dalamnya rosul sedang duduk. Laki-laki itu lantas melakukan sholat dan setelah sholat ia datang menemui rosululloh. Rosul berkata, “Kamu sholat lagi! karena tadi kamu belum sholat”. Mendengar perintah rosul, maka laki-laki itu sholat lagi, dan setelahnya berbalik lagi ke rosul. Rosul berkata kembali “Kamu sholat lagi, karena kamu belum sholat”. Kejadian ini terus berlanjut sampai laki-laki itu melakukan sholat tiga kali.

Setelah melakukan shalat tiga kali, laki-laki itu bertanya kepada rosul, “Harus seperti apa saya melakukan sholat?. Maka rosulpun mengajarkan. Kalau mau sholat sempurnakan wudhu, kemudian menghadap kiblat, dan membaca takbir. Bacalah al-Quran yang kamu mudah. Kemudian ruku sehingga punggungmu rata. Kamu betul-betul tumaninah (tenang tentram) dalam ruku, bangun, dan sujud. Kalau kamu sudah benar maka sholatlah selama-lamanya.

Mari kita berlatih sholat untuk menghadirkan sholat yang kualitas, bukan seperti laki-laki yang dikisahkan di atas….

Bagaimana Sikap Terhadap Kuburan?

Sesuatu yang menarik jika bicara mengenai kuburan. Betapa tidak, banyak orang terjerumus ke dalam syirik gara-gara kuburan. Begitu besarnya potensi ziarah kubur menyeret ke dalam kesyirikan, sampai-sampai rosul pun melarangnya di awal periode dakwah karena aqidah umat masih lemah. Baru, setelah akidah kuat, perintah ziarah kubur turun.

Ziarah kubur kalau tidak dasari dengan aqidah yang kuat sangatlah beresiko, apalagi ziarah ke kuburan orang-orang yang sholeh. Mulanya, timbul keyakinan bahwa beribadah di kuburan orang sholeh itu lebih utama dibanding tempat lainnya. Lalu bisa saja dengan serta merta seseorang meminta hajat atau kepentingan kepada penghuni kubur, misalnya mencari keberkahan, rizki, pangkat, jodoh, dan lain sebagainya. Dan ini sudah masuk ke dalam syirik.

Pertanyaannya, perintah ziarah kubur seperti apa yang yang diperbolehkan rosul?

Untuk menjawab hal ini, alangkah baiknya kita mencermati beberapa peristiwa di zaman rosul terkait dengan ziarah kubur. Rosul pernah meminta izin kepada Alloh untuk berziarah ke kuburan ibunya (Siti Aminah) dan diizinkan. Rosul pernah diperintahkan berziarah ke salah satu kuburan sahabat untuk mendoakannya. Aisyah r.a pernah berziarah ke kuburan saudaranya. Rosul pernah melihat seorang ibu berziarah ke kuburan anaknya dan menangis, lalu rosul berkata, “Bersabarlah wahai ibu…”.

Dari beberapa peristiwa ini, kita bisa menyimpulkan bahwa boleh hukumnya melakukan ziarah ke kuburan sanak famili dan orang-orang yang dicintai untuk mengingat negeri akhirat dan mendoakan ahli kubur. Sebaliknya dari peristiwa di atas, tidak ada dasar perintah untuk ziarah ke kuburan keramat atau orang-orang yang sholeh. Bahkan, dalam hadits lain rosul melarang berkumpul-kumpul di kuburan beliau. Berkumpul di makam rosul yang agung pun di larang, apalagi di makam orang-orang selain rosul, yang secara tingkatan jauh di bawah rosul.

Dalam hadits lain rosul pernah bersabda, “Janganlah didakan perjalanan jauh yang bernilai ibadah kecuali ke tiga tempat yakni mesjid haram, mesjid nabawi dan mesjid al-Aqso”. Implikasi dari larangan ini, saat pergi ke mesjid Medinah pun tidak diperkenankan berniat untuk mengunjungi makam nabi. Namun haruslah berniat beribadah di mesjid Nabawi, walaupun saat berada di sana melakukan ziarah ke kubur nabi. Perjalanan sengaja ke makam rosul pun tidak diperbolehkan, apalagi dengan sengaja melakukan perjalanan jauh ke makam-makam keramat.

Pertanyaan lebih lanjut, Sikap seperti apa yang seharusnya kita miliki terkait dengan ziarah kubur?

Jawabanya, sikap PERTENGAHAN yang dibutuhkan, yakni tidak berlebihan dalam menyikapi kubur dan tidak juga menghinakan kuburan. Hal ini sejalan dengan salah satu hadits nabi, “Janganlah sholat menghadap kubur dan duduk diatas kubur”. Larangan pertama terkait dengan sikap berlebihan atau mengkultuskan (sholat di atas kubur) dan larangan kedua terkait dengan sikap menghinakan misalnya menginjak-injak dengan sengaja.

Dalam hadits lain rosulpun bersabda, “Semoga Alloh melaknat orang Yahudi dan Nasrani yang telah menjadikan kuburan para nabi sebagai tempat ibadah”.

Semoga kita bisa lebih berhati-hati dalam menyikapi kuburan terutama kuburan-kuburan keramat, agar terhindar dari bahaya kesyirikan. Sebaliknya, menjadikan kuburan sebagai sarana mengingat kematian dan negeri akhirat yang akhirnya meningkatkan keimanan. Amien..

MENCINTAI BINATANG MELEBIHI ANAK KANDUNG??

Nabi Muhammad saw pernah meramalkan, pada akhir zaman manusia akan lebih senang memelihara binatang dibandingkan anak kandungnya sendiri. Makna dari ramalan ini adalah akan datang suatu masa dimana akan hilang perhatian orang tua untuk mendidik anaknya menjadi anak yang sholeh. Orang tua lebih sibuk dengan urusannya masing-masing. Mereka merasa cukup memberikan kebutuhan fisik, pakaian dan makanan. Namun, mereka lupa mengembangkan aqidah dan akhlaq anaknya. Hal ini diumpamakan mereka lebih mencintai binatang peliharaan dibanding anak kandungnya sendiri.

Jika binatang peliharaan, misalnya anjing, belum pulang saat maghrib tiba, ia akan bertanya kenapa anjingnya belum pulang. Ia merasa takut kalau anjingnya mendapat kecelakaan. Namun jika anaknya belum pulang, ia berkata, biarkan saja nanti juga akan pulang sendiri. Ia tidak merasa takut, apa yang terjadi dengan pergaulan anaknya.

Jika hal ini terjadi, dimana kebanyakan orang tua telah melupakan pengajaran akhlaq dan aqidah terhadap anaknya, maka secara perlahan akan menimbukan krisis generasi. Jangan disalahkan jika hubungan anak dan orang tua tidak lagi harmonis, anak tidak menghormati orang tua, dan orang tua merasa anaknya tidak berbakti. Akibat lebih lanjut, hubungan bebas antara laki-laki dan perempuan semakin merajalela, sehingga melahirkan anak yang tidak sah. Tidak sedikit pula anak menjadi kecanduan narkoba, tidak malu merampok, tidak malu menjual diri, membohongi orang tua , bahkan ‘naudzubilah’ berani membunuh orang tuanya sendiri.

Orang tua bisa saja rajin melakukan sholat, namun anaknya lebih senang berjudi dan mabuk-mabukan. Maka, hancur leburlah moral gerenasi mendatang yang pada akhirnya membawa malapetaka bagi seluruh umat manusia.

Dalam ajaran islam, orang tua hendaknya melaksanakan kewajiban terhadap anaknya. Dimulai memberi nama yang baik, mendidik sopan santun, mengajari olahraga, tidak memberi makanan kecuali yang halal, serta menikahkan saat anak mencapai dewasa.

Anak adalah aset dunia dan akhirat. Di saat tua renta, orang tua akan menyesal jika ia mendidik anaknya dengan harta semata. Tidak sedikit saat orang tua meninggal, si anak tidak bisa mensholatkan bapak atau ibunya, karena ia tidak mengerti syariat agama. Di akhirat kelak, anak yang sholeh akan menjadi investasi orang tuanya. Setiap kebaikan dari anggota badan anak, akan menjadi jariah yang terus mengalir bagi orang tua yang telah meninggal.

Kenyataannya, memang tidak mudah mendidik anak yang soleh. Tidaklah semudah membalikkan kedua belah tangan. Diperlukan perjuangan yang konsiten dan kesabaran. Anak haruslah dido’ain, diberi kasih sayang, diajarin aqidah dan akhlaq dan jangan menjadikan dirinya lemah.

Islam mengajarkan janganlah orang tua wafat meninggalkan keturunan yang lemah. Lemah disini mencakup tiga dimensi, yakni lemah tauhid, lemah pendidikan, dan lemah ekonomi. Ajarilah anak sejak dini mengenal Alloh, tata cara berwudlu, sholat dan ibadah lainnya sesuai dengan perkembangannya. Jangan biarkan anak lemah dalam pendidikan. Silahkan membeli kebutuhan hidup lain, namun jangan melupakan investasi pendidikan anak. Jangan pula membiarkan anak lemah dalam urusan ekonomi. Islam sangat melarang jika orang tua me-waqafkan seluruh harta bendanya, sementara anak yang ditinggal terlantar.

Semoga kita diberi kekuatan untuk mendidik anak yang sholeh, agar ia menjadi investasi diri di dunia dan akhirat…amien.